waiting (Taken with instagram)
Bromance ala 21 Jump Street
Film ini mengisahkan dua polisi yang mengemban tugas menyelidiki peredaran narkoba di sekolah dengan menyamar sebagai siswa. Schmidt (Jonah Hill) dan Jenko (Channing Tatum) mengulang kembali masa SMA mereka dengan identitas baru.

sumber : Badass Digest
Diangkat dari serial tv Amerika berjudul sama, 21 jump street menyuguhkan kejar-kejaran ala film action, namun dengan kemasan komedi. Tidak banyak yang akan saya ceritakan, karena lebih baik anda menontonnya sendiri. Siap-siap dibuat terharu campur geli melihat kisah bromance antara Schmidt dan Jenko.

Sumber : Very Aware
Beberapa hal yang mencuri perhatian saya di film ini adalah hadirnya Johnny Deep -yang menjadi pemeran utama di serial tv 21 Jump Street - sebagai cameo. Selain itu peran kepala sekolah yang dimainkan oleh Jake Johnson. Terlalu personal memang, karena saya sangat suka Jake Johnson :D
kepala sekolah yang arif, bijaksana dan tampan.
Selamat menonton :)
Kisah dari Selatan Jakarta
Hai, ini adalah postingan ketika sedang tak bisa tidur. Yak, seringkali insomnia membawa saya kepada tulisan-tulisan meracau. Malam ini (atau lebih tepatnya pagi ini) saya ingin meminjam judul lagu dari White Shoes and The Couples Company, tak ada tujuan khusus, hanya saja memang saya ingin bercerita tentang sebuah kisah yang terjadi di Selatan Jakarta #tsah
Jadi tadi pagi ketika baru saja mendarat di depan kantor, saya melihat pemandangan ini

Seketika saya tertegun, lalu tersenyum memperhatikan tingkah tiga bapak itu. Lalu mulai men-dubbing pembicaraan mereka di pikiran saya sendiri. Kira kira seperti ini :
Bapak 1 : woi pak. aku dapet radio bekas ini. lumayan deh dikiloin. lu gimana?
Bapak 2: dus dus ama kertas biasa aja nih
Bapak 3: ya kalo gw mah ga ada yg aneh. plastik-plastik botol aja sih
Lalu mereka saling tertawa. kemudian terdiam. duduk masing-masing mengambil tempatnya sendiri. Terdiam lama. Entah apa yang dipikirkan. Mungkin akan makan apa siang nanti. Atau besok pagi. Tidak ada alunan lagu-lagu Sabrina. Tidak juga wangi kopi mahal atau hembusan pendingin ruangan.
Lalu seketika saya tersadar bahwa hampir terlambat untuk masuk kantor.
Dan mereka kebingungan karena saya sempat melempar senyum. Tidak bisa dibilang manis. Tapi cukuplah buat bikin es teh mah.
Bukan Review : DGNR8
Sekian lama rindu membuncah menanti album baru band ini, lalu kemudian terkejut. The Brandals yang dulu kita kenal merubah nama menjadi BRNDLS dan mempersembahkan album terbarunya, DGNR8. Ketika single pertama mereka, Start Bleeding mengudara dan dapat diunduh secara resmi dan cuma-cuma, seketika itu juga saya bergumam, “Bukan The Brandals yang biasanya..” Well, mereka memang bukan lagi The Brandals, mereka BRNDLS.

sumber: https://twitter.com/thebrandals
Kenyataan bahwasanya setiap orang akan mengalami perubahan, dialami oleh band ini. Mungkin tidak semua orang siap dengan perubahan, namun bagi saya perubahan ini sangatlah menyenangkan. Nuansa rock n roll masih melekat dalam diri mereka, namun terasa –jika bisa dibilang- lebih dewasa- terdengar dari aransemen musik yang lebih complicated. Saya tak terlalu mengerti banyak soal teori musik atau apapun itu, tapi bagi saya penantian akan album ini terbayarkan sudah.

Di tengah wacana bahwa cd tak lagi diburu, bagi saya anda masih harus memburu album ini. Memang salah satu trik kreatif para musisi adalah bekerja keras pada kemasan album agar membeli cd memiliki kesenangan tersendiri. DGNR8 dikemas dengan sederhana namun unik. CD case nya hanya dari karton dengan desain sederhana berwarna dasar putih dan sentuhan biru lembut. Tidak ketinggalan bulatan hijau ciri khas sebuah obat dan dibungkus plastik yang biasa membungkus obat. Saya pribadi tidak tahu maksud dari pengemasan ini, tapi bagi saya cd ini memang bisa diasosiasikan seperti obat. Bisa menyembuhkan, dan membuat ketagihan sekaligus. Ayolah, 35 ribu rupiah saja untuk cd dengan bonus dvd documentary BRNDLS. Jika beruntung bahkan masih bisa dapat poster :p


Track favorit saya di album ini adalah Abrasi, dengan sentuhan kicauan dari Ucok Homicide. Seperti sebuah kritikan yang disampaikan dengan cara cerdas. Tapi masih banyak lagu lain yang yang tak kalah mencuri perhatian, seperti Perak, juga Awas Polizei yang sesungguhnya menggambarkan image polisi di Indonesia. Penggunaan bahasa Jerman untuk menyebut polisi dengan maksud jika ada yang tersinggung, maka sebut saja lagu ini membicarakan polisi Jerman. Ngeles yang sempurna ;) Bahkan lagu ini terpilih sebagai salah satu lagu Indonesia terbaik 2011 versi majalah Rolling Stone Indonesia dan albumnya sendiri dinobatkan sebagai salah satu album Indonesia terbaik 2011. Tapi dari semua lagu yang ada, Love Detox selalu membuat saya membayangkan Eka sang vokalis menari-nari lincah di atas panggung. Ahh.. selalu menyenangkan melihat mereka live.
- Smosh - REAL DEATH NOTE -
New Post : Bukan Review
Hai, sudah lama tidak tumblr-ing. Hehe
Jadi rencananya setiap minggu saya ingin mem-bukanreview sesuatu. Bisa cd, buku, film, orang, binatang, apa aja sih. Haaa random abis. Intinya membahas sesuatu tersebut tapi bukan review. Ngerti gak? Gak ngerti ya? Saya juga gak ngerti sih. Cuma doakan semoga bisa rutin deh (berhubung waktu nulis semakin sedikit sekarang,huhuuu). Rencananya sih (masih rencana) setiap Jumat. Tidak ada alasan khusus, karena Jumat hanya terlalu special untuk tidak menjadi produktif :)
Jadi, ada yg mau usul sesuatu untuk di-bukanreview-kan?


